DESA TUNGGULSARI

Wilayah  Desa  Tunggulsari  berada di ketinggian ± 85 m di atas permukaan laut, terletak 3 km  arah timur  kota  Tulungagung  dan 4 km arah barat daya dari kecamatan Kedungwaru. Desa Tunggulsari dengan luas wilayah 147,72 Ha di bagi menjadi tiga dusun yaitu Dusun Sekarsari, Dusun Mekarsari, Dusun Sumbersari.

Berada di seberang akses jalan antar kecamatan, jalur Kota-Ngunut lewat Pulosari, Desa Tunggulsari potensial sebagai kawasan pengembangan permukiman komunal, seperti perumahan. Tak ayal, telah tumbuh setidaknya ada 5 kawasan perumahan yang telah ada.

Disamping itu, topografi desa yang relatif datar dan subur dengan sungai yang melingkar di tengah desa menjadi potensi pengembangan pertanian yang potensial dan produktifitas hasil pertanian yang baik. Pola pembangunan lahan di Desa Tunggulsari lebih didominasi oleh kegiatan pertanian pangan dan hortikultura yaitu tebu, padi, jagung, dan lain lain.

Selain itu Desa Tunggulsari juga didukung fasilitas pendidikan Sekolah Dasar dan fasilitas kesehatan berupa PUSKESDES yang sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Namun demikian, tidak berarti tidak ada permasalahan sosial seperti kemiskinan, pengangguran dan kenakalan remaja di Desa Tunggulsari. Potensi desa yang ada belum maksimal diberdayakan, hal ini disebabkan kurang menunjangnya infrastuktur yang memadai dan potensi sumber daya manusia yang belum tergali.

Berdasarkan kelompok jenis kelamin, penduduk Desa Tunggulsari dari 3 ( tiga) Dusun yang ada, yaitu Dusun Sekarsari dengan rincian penduduk Laki-Laki (L) 1082 Jiwa, perempuan (P) 1114 Jiwa, Dusun Mekarsari penduduk laki-laki ( L ) 983 Jiwa, perempuan 1010 jiwa, Dusun Sumbersari dengan rincian penduduk Laki-laki ( L ) 882 Jiwa, perempuan 918 Jiwa. Total jumlah pendududuk Laki –laki ( L ) 2.947 , perempuan ( P ) 3.042 Jiwa.
Berdasarkan kelompok usia penduduk dengan rincian usia (0- 5) tahun, Laki-laki 293 Jiwa, perempuan 307 jiwa, usia (5 – 10) tahun, Laki-laki 364 Jiwa, perempuan 372 jiwa, usia ( 10-15 ) tahun, laki-laki 508 jiwa dan perempuan 524 jiwa, usia ( 15-30 )tahun, Laki-laki 732 jiwa, perempuan 741 jiwa, usia ( 30-45 )tahun , laki-laki 705 jiwa dan perempuan 725 jiwa. Untuk kelompok usia ( 45-60 ) tahun, laki-laki berjumlah 345 dan perempuan 373 jiwa.
Berdasarkan kelompok kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk dari 3 dusun, Dusun Sekarsari memiliki angka tertinggi yaitu antara Kelahiran – Kematian – Perpindahan adalah 34 – 15 – 13, diikuti Mekarsari 26 – 10 – 12, Sumbersari 23 – 10 – 8 jiwa.

Dengan keadaan dan perkembangan sosial serta fasilitas umum yang terdapat di desa dapat digambarkan keadan tersebut, jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin laki-laki 2.947 orang, perempuan 3.042 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 1780 orang sebagai petani, 799 orang sebgai buruh tani, 178 orang sebagai pegawai negeri, 229 orang sebagai tukang, 74 orang sebagai TNI/POLRI, 59 orang sebagi pedagang. Dengan jumlah penduduk tersebut dengan tingkat pendidikannya, 645 orang lulusan SD, 54 orang lulusan S1. Dan jumlah penduduk berdasarkan keyakinan dan kepercayaan , 5396 orang beragama Islam.

Luas Wilayah Desa Tunggulsari terdiri :
1. Tanah Sawah :110 Ha
2. Tanah Tegal/ Pekarangan : 21,664 Ha
3. Tanah Tempat Pemukiman : 277,006 Ha
4. Tanah untuk lain-lain : 76.830 Ha
Jumlah keseluruhan : 147, 72 Ha

Sejarah

Sejarah asal usul Desa Tunggulsari, tidak terlepas dari babad Kota Tulungagung. Berawal pada jaman Pemerintahan Majapahit, wilayah selatan Sungai Brantas berdiri sebuah Perguruan Pacet di daerah Bonorowo, dimpimpin oleh orang yang sangat terkenal dan sakti yang bernama Kiai Pacet. Berdirinya perguruan ini sangat besar manfaatnya bagi raja untuk mempermudah hubungan antara daerah pedalaman dan membantu keamanan wilayah kekuasaanya. Kiai pacet mempunyai murid-murid diantaranya;

  1. Pangeran Kalang dari Tanggulangin
  2. Pageran Bedalem dari Kadipaten Betak
  3. Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek
  4. Kiai Kasan Besari dari Dukuh Tanggul
  5. Kiai Singo Taruno dari Dukuh Plosokandang
  6. Kiai Sendang Gumuling dari Desa Bono
  7. Pangeran Lembu Peteng Putra Majapahit.

Kiai Pacet pada suatu hari mengadakan pertemuan dengan murid-muridnya, selain memberikan ilmu dan wejangan-wejangan, Kiai Pacet menyampaikan dan merasa tidak berkenan, karena diantara murid-muridnya ada yang mendirikan perguruan lagi tanpa sepengetahuan Kiai Pacet.

Dalam pertemuan tersebut, seketika itu tanpa pamit Kiai Kasan Besari meninggalkan tempat pertemuan, karena tersinggung dan marah dikarenakan sindiran dari dari Kiai Pacet. Dikarenakan murid-murid itu hanya Kiai Kasan besari yang mendirikan perguruan di Dukuh Tanggul. Untuk mencegah agar Kiai Kasan besari tidak balelo, dan mau kembali ke Perguruan Bonorowo, Kiai pacet mengirim dua orang utusan yaitu pangeran kalang dan Pangeran Bedalem.

Karena tidak dapat membujuk Kiai Kasan besari, maka Pangeran Bedalem kembali ke Kadipaten Betak, sedangkan Pangeran Kalang malah ikut berpihak kepada Kiai Kasan Besari, siap membantu memberontak dan membunuh Kiai Pacet. Usaha untuk membunuh selalu gagal karena Kiai Pacet sakti dan memiliki ajian berupa rupa menjadi singa serta ajian pusaka keris yang bercahaya menyerupai petir yang gemuruh, istilah jawanya gemeludug. Ketika mengejat Kiai Pacet, Kiai Kasan Besari mengeluarkan kesaktiannya dengan membanting kemiri yang berubah menjadi harimau.

Sebaliknya Kiai Pacet begitu juga Beliau membanting bungkul berubah menjadi ular besar, dalam pertarungan mereka mengeluarkan ajian kanuragan masing-masing, karena kalah sakti, Kiai Kasan Besari melarikan diri. Kiai Pacet dengan dibantu Pangeran Lembu Peteng terus mengejar Kiai Kasan Besari, yang lari ke desa Ringinpitu untuk meminjam senjata Tombak Korowelang milik kakaknya yang bernama Kiai Becak, karena tidak dipinjami maka Kiai kasan besari marah dan Kiai Becak akhirnya dibunuh. Mengetahui ayahnya dibunuh, kedua anak Kiai Becak yaitu dadaplangu dan Dadaptulak tidak terima atas peristiwa tersebut, lalu mereka mengejar Kiai Kasan Besari yang tidak lain terlah membunuh orangtuanya.

Pengejaran terhadap Kiai Kasan Besari berujung peperangan, yang mana didalam peperangan tersebut akhirnya dadaplangu dan dadaptulak kalah dan meninggal. Kiai Kasan besari melanjutkan perjalanannya mengejar Pangeran Lembu Peteng, dalam perjalanannya Kiai Kasan Besaru bertemu dengan Pangeran Bedalem. Dalam pertemuannya tersebut mereka sepakat untuk bersama-sama mengejar Pangeran Lembu Peteng.

Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembang Sore beristirahat di tepi sungai, datanglah Kiai Kasan Besari dan pangeran Lembu Bedalem yang langsung menangkap dan membunuh pangeran Lembu Peteng.

Mengetahui peristiwa terbunuhnya Pangeran Lembu Peteng u=yang merupakan putra Majapahit, akhirnya Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Perwira Mada, mengerahkan balatentara untuk mengejar dan menangkap pangeran Bedalem dan Kiai Kasan besari. Mengetahui mereka dikejar oleh balatentara Kerajaan Majapahit, Pangeran Bedalem lari menuju arah selatan yang akhirnya dunuh diri menjeburkab diri ke sebuah Kedung Bedalem.

Balatentara Majapahit menyebar untuk mencari Kiai Kasan Besari, Putra Majapahit Pangeran Suka kalah tergelincir sehingga meninggal dunia saat melawan Kiai Kasan Besari. Pengejaran dilanjutkan oleh Perwira Mada sampai ke dukuh Tunggul. Kiai Kasan besari kalah dan terbunuh oleh pusaka Tombak Koworelang yang dia bawa sendiri. Maka dukuh tersebut oleh Perwira Majapahit diberi nama Dukuh atau Desa Tanggulsari.

Terdapat punden petilasan makam yang menurut keyakinan masyarakat Desa Tunggulsari, adalah makam dari Kiai Kasan Besari. Warha uga sering menyebutnya makam Mbah Bodo atau Mbah Gondrag.

Adapun sisi kepemimpinan yang pernah menjabat di Desa Tunggulsari, diantarannya;

  1. Sulur
  2. Karyo Senono (Soemari)
  3. Parto Oetomo (1951-1981)
  4. Moeryoto Pjs. Kepala Desa (1981-1983)
  5. Kardini (Karteker dari ABRI/TNI-AD) (1983-1989)
  6. Maharani, BA (1989-1998)
  7. Suprapto (1998-2007)
  8. Triko Iriyanto (2007-2013)
  9. Parno Pjs. Kepala Desa (2013)
  10. Didik Girno Yekti (2013-Sekarang)

Demikianlah cerita asal usul mengenai Desa Tunggulsari yang merupak suatu daerah yang menjadi peristiwa bersejarah. Semoga tulisan penelusuran jejak-jejak ini memiliki kemanfaatan bagi masyarakat.

Wilayah Desa

0
Dusun
0
Rukun warga
0
Rukun tetangga
Wilayah Dusun
Batas Wilayah

Visi & Misi

Terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Desa Tunggulsari melalui semangat ayem tentrem mulyo lan tinoto

  1. Meningkatkan layanan pendidikan dan kesehatan masyarakat.
  2. Meningkatkan perekonomian masyarakat.
  3. Meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan masyarakat dalam perencanaan pembangunan.
  4. Meningkatkan pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga.
  5. Meningkatkan tugas pokok dan fungsi Pemerintah Desa dengan pengefektifan tugas pokok dan fungsi masing-masing urusan.
  6. Mewujudkan masyarakat yang terampil dan mampu melaksanakan pembangunan secara mandiri dengan pemberdayaan masyarakat dan swakelola kegiatan pembangunan ( Pembangunan Partisipatif ).
  7. Mewujudkan Desa Tunggulsari menjadi desa yang selalu terdepan dalam melaksanakan pembangunan dengan memanfaatkan sektor-sektor unggulan yaitu pertanian dan pariwisata.

Perangkat Desa

Aparat desa Tulungagung periode 2016-2022

DIDIK GIRNOTO YEKTI, S.A.P.

Kepala Desa Tunggulsari

DAVID FATAH KHULLOH

Sekretaris Desa

ENNY TRISTYONINGSIH

Kaur Keuangan

YAYANG EKA PRIANTI

Kasi Pemerintahan

SUPANI

Kaur Perencanaan dan Pembangunan

PARNO

Kaur Umum

KAMIM MUSTAKIM

Kepala Dusun Sekarsari

SUNARKO

Kepala Dusun Mekarsari

PU'AD WARAS WIYANTO

Kepala Dusun Sumbersari

SUWIKNYO

Kaur Kesra

Ingin tahu statistik desa?

Semua data statistik tentang desa